Sabtu, 05 Mei 2012

Cerpen "Tak Ada yang Abadi"


Pagi ini langit begitu cerah, sinar mentari pun mulai menerobos celah-celah jendela yang sengaja dibiarkan terbuka oleh suster Lina, suster yang merawat Aisyah dua bulan terakhir ini. Hari ini, di ruangan berukuran 4x5 meter masih tetap terlihat seorang gadis yang nampak tak berdaya tergulai lemah dengan pandangan kosong di atas tempat tidur.

Sepuluh tahun yang lalu, awal kisah ini dimulai saat pertama kali Aisyah menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Pertama. Pagi itu pagi yang cerah untuk Aisyah, sekolah baru, teman baru dan yang pasti sejuta pengalaman baru juga kan menanti dirinya. Hari berganti dengan hari, minggu pun berganti dengan bulan. Disitulah Aisyah mulai mengenal seseorang, seseorang yang sangat ia kagumi, sebut saja Dika. Dika adalah senior satu tingkat di atasnya. Sosok yang tampan, baik, perhatian, hangat dan setiap senyum dan perkataannya mampu membuat Aisyah merasa tenang. Aisyah mampu tersenyum dan tak akan melewatkan sedikitpun tuk memandang sosok Dika jika Ia melihat Dika berjalan di pelataran sekolah atau saat Dika lewat depan kelasnya, yah sosok Dika benar-benar jelah menghipnotis Aisyah.

Tiga tahun telah berlalu, saat itu Aisyah bukan satu atap gedung lagi dengan Dika. Dika masuk SMA favorit di kota mereka, namun Aisyah tak bisa menyusulnya ke sekolah yang sama. Sejak itulah Aisyah mulai kehilangan jejak tentang Dika dan hanya bisa menyimpan rasa yang tak pernah terungkap.

Bulan berganti tahun, Aisyah pun menjalani hidupnya sendiri. Hari-hari tanpa cerita seorang Dika lagi sampai akhirnya Dia menginjakkan kaki di semester VII bangku kuliah di perantauan sana. Namun sayang, meski Ia beberapa kali menjalin hubungan dengan pria lain, sosok Dika lah yang slalu hidup dalam hatinya. Pernah Ia berfikir cintanya terhadap Dika hanya cinta monyet karena tak pernah Ia ungkapkan. Tapi cinta itu justru terus berkembang dan semakin kuat hingga Ia dewasa dan mulai saat itulah Ia yakin akan perasaannya dan mulai mencari lagi informasi tentang keberadaan Dika. Setelah bersusah payah, akhirnya Ia mendapatkan contact Dika. Singkat cerita, hari-hari kali ini Aisyah lewati dengan penuh tawa karena Dika sumber kekuatannya kini Ia temukan lagi.

Setahun sudah komunikasi itu terjalin, namun Aisyah belum mampu mengungkapkan perasaan yang bertahun-tahun Ia pendam, bahkan Ia rela menutup hatinya untuk orang lain demi seorang Dika. Cukup membuat Aisyah senang karena Dika mengagumi Aisyah, cewek unik yang telah Dika anggap adik, sosok yang selalu ceria, penuh dengan tawa dan selalu memberi perhatian kepada Dika. Hari-hari pun telah berlalu, mungkin Tuhan mendengar doa-doa Aisyah selama ini, dengan waktu yang tak disangka Dika ternyata menaruh perasaan kepada Aisyah dan akhirnya mereka pun menjalin hubungan. Tapi sayang, hal itu tak berlangsung lama. Tanpa alasan dan sebab Dika memutuskan hubungan itu. Sungguh shock, keputusan ini tak mampu lagi membendung air mata Aisyah untu tak mengalir. Sakit dan kecewa pasti! Bagaimanapun Dika adalah seseorang yang Ia sayang hampir 10 tahun lamanya dan satu-satunya cowok yang pertama kali Ia kenalkan kepada orang tuanya meski sebelumnya Ia juga pernah menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tapi hidup tak berhenti di sini, cerita pun masih panjang. Hari demi hari Aisyah belajar tuk berdiri lagi, mencoba melupakan sosok Dika yang pernah menghiasi hari-harinya, mencoba untuk tetap ikhlas.

Dua bulan telah berlalu tanpa Dika, Aisyah menjalani hari-harinya sendiri sampai suatu hari Ia mendapatkan handphone-nya berbunyi. Setelah di cek ternyata ada satu pesan di inbox-nya bertuliskan nama pengirim “DIKA”, dengan jantung berdebar Ia buka pesan itu. “Aisyah.., apa kabar? Lama ya tak mendengar tawamu, bagaimana kondisimu? Mudah-mudahan selalu sehat. Entah kenapa aku masih teringat kamu terus, tanpamu hari-hariku ada yang kurang”. Begitulah isi pesan pendek dari Dika. Sungguh membuat Aisyah kaget, tak pernah ada kabar darinya namun tiba-tiba Dia mengirimkan pesan seperti itu. Sejak itulailah komunikasi mulai terjalin lagi dan pada intinya Dika ingin menjalin hubungan itu sekali lagi. Senang pasti, tapi tak segampang itu bagi Aisyah tuk memutuskan kembali lagi setelah ingat sakit saat Ia ditinggalkan. Namun ada satu yang membuat Aisyah lebih senang, Dika ternyata sekarang sudah mendapat kerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor dengan posisi yang lumayan. Jika melihat potensi yang ada pada diri Dika memang mudah untuk Dia mendapatkan pekerjaan, Dia sosok yang menarik, berkemauan keras dan tentunya juga smart. Aisyah masih butuh waktu untuk menerima Dika kembali meski sebenarnya Ia sangat ingin.

Tapi takdir berkata lain, Tuhan terlebih dulu memanggil Dika ke sisiNya sebelum Aisyah menjawab permintaan maaf dan keinginan Dia. Kecelakaan yang terjadi telah merenggut nyawa Dika saat Dia perjalanan menuju tempat kerjanya. Hal ini yang membuat Aisyah merasa begitu menyesal. Rasa begitu kehilangan Dia membuat Ia mengalami depresi yang berkepanjangan. Setiap hari pandangannya selalu kosong dan air mata yang selalu keluar dari mata sipitnya, terlebih lagi jika Ia melihat anak dengan seragam SMP, matanya kontan berkaca-kaca karena mengingatkan kenangan saat dulu jaman putih donker.

Karena kondisinya yang semakin parah, akhirnya Ia diputuskan untuk dirawat di rumah sakit Harapan Jiwa. Hari demi hari Ia hanya lewati dengan termenung di atas tempat tidur. Wajah cantiknya pun mulai lusuh, senyum yang dulu selalu menghiasi bibir manisnya kini tak terlihat lagi sampai pada akhirnya Dr.Rey, dokter yang mengobatinya selama ini ternyata menaruh rasa pada Aisyah. Memang tak masuk akal, seorang Dokter muda, tampan, baik, berwibawa bisa menaruh hati pada seorang wanita yang jelas-jelas kondisi kejiwaannya lagi terganggu. Di luar sana mungkin banyak wanita yang menanti dan mengharap dirinya, pasti gampang untuk mendapat wanita yang lebih sempurna. Namun entah kenapa Dr.Rey begitu menaruh rasa pada Aisyah. Mengetahui jalan kisah yang dialami Aisyah, Dr.Rey bertekad untuk membuat Aisyah sembuh. Hari demi hari waktu kosong Dia luangkan untuk Aisyah, demi kesembuhannya. Alhasil tak ada yang mustahil, kondisi Aisyah mulai berangsur membaik, suatu kabar baik bagi keluarga Aisyah dan orang-orang terdekatnya.
 
Melihat kesungguhan dan kebaikan Dr.Rey, sedikit demi sedikit Aisyah mulai bisa melupakan Dika dan belajar menerima kenyataan yang ada sekarang. Dan hari ini, dengan ditemani Dr.Rey, Ia berdiri disamping batu nisan Dika dan mungkin di alam sana Dika telah tersenyum melihat Aisyah sudah mendapat keceriaanya lagi, didampingi seseorang yang tulus mencintainya. Seperti kata-kata yang sempat Dika ucapkan sebelum pergi: “Meski kita tak ditakdirkan tuk bersatu, biarlah cinta kita bersemi meski di dua raga yang berbeda”.  (Oleh: Mery Za)

Tidak ada komentar: